Alur Kasus Pidana

Alur Kasus Pidana

Pada post Peraturan Pangan, saya telah menguraikan tahapan yang dilalui seseorang jika terkena kasus pidana. Kali ini, saya akan me-review kembali mengenai kasus pidana. Prosesnya sangat panjanggg, ribettt, dan rumitttt sekali, so sebisa mungkin kalian harus hindari yaa hehehe 🙂

  1. Pelaporan (korban lapor ke polisi)
  2. Penyelidikkan (saksi boleh ditemani advokat, saksi tidak boleh bohong, tapi tersangka boleh bohong)
  3. Penyidikan (sudah ada tersangka. Berkas lengkap dan dikirim ke kejaksaan. Penyidik: polisi, KPK, jaksa, PNS)
  4. Penuntutan (dilakukan oleh jaksa dan disebutkan dugaan misalkan melanggar UUD Ketenagakerjaan No 1 pasal 2. Lalu jaksa menyusun surat dakwaan dan dilimpahkan ke pengadilan. Hanya beberapa jaksa yang menjadi JPU atau jaksa penuntut umum. Pendataan dilakukan di pengadilan dan majelis hakim menetapkan kapan sidang pertama dilakukan.)
  5. Pengadilan (sidang pertama dilakukan untuk membacakan dakwaan maupun subsider. Contoh subsider: kalau tidak kena pasal a, berarti kena pasal b. Lalu terdakwa dapat menyampaikan esepsi. Esepsi bisa disebabkan karena kesalahan jenis pengadilan dan tempat pengadilan. Misalkan kasus pencurian tapi diadili di pengadilan korupsi atau TKP terjadi di Bogor tapi diadili di Jakarta. Setelah esepsi disampaikan, jaksa pun dapat menangkis yang disebut dengan jawaban esepsi. Misalkan terdakwa selain melakukan pencurian, ternyata korupsi juga. Kemudian terjadi replik dan duplik secara bergantian hingga hakim memutuskan yang disebut putusan sela)
  6. Pemeriksaan saksi (ada saksi yang bersifat meringankan dan memberatkan hukuman terdakwa)
  7. Pemeriksaan terdakwa
  8. Pembacaan tuntutan (disebutkan keterangan seperti terdakwa terbukti melakukan korupsi dan melanggar pasal 2. Dakwaan dan tuntutan harus sama, misalnya dakwaan mengenai korupsi dan tuntutan juga mengenai korupsi)
  9. Pembelaan/pledoi
  10. Jawaban jaksa (replik)
  11. Jawaban pengacara (duplik)
  12. Putusan (jika terdakwa tidak terima terhadap putusan, bisa mengajukan banding. Selain terdakwa, jaksa pun dapat melakukan banding. Banding dilakukan di pengadilan tinggi. Jika masih tidak puas, bisa mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung.)
  13. Terdakwa masuk penjara (terdakwa menjadi terpidana)

Sampai jumpa di post berikutnya!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s